Mahasiswa Bisnis Digital IIB Darmajaya Raih Pendanaan P2MW 2025 Lewat Fourteen Travel

(pelitaekspres.cm) -BANDAR LAMPUNG – Fanny Rizky Ardany, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, bersama timnya berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2025. Program ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI).

Usaha rintisan yang mereka kembangkan, Fourteen Travel, memperoleh hibah sebesar Rp14.250.000. Selain itu, tim juga berkesempatan mengikuti Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI 2025 yang telah diselenggarakan di Universitas Tidar, Kota Magelang.

Menurut Fanny, ajang tersebut menjadi sarana penting untuk membuka wawasan serta meningkatkan kepercayaan diri tim dalam bersaing dengan wirausaha mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Fourteen Travel berangkat dari ide sederhana untuk menghadirkan layanan wisata bahari Lampung yang seru, aman, dan edukatif, sekaligus melibatkan masyarakat lokal. Seiring waktu, usaha ini terus berkembang di tengah berbagai dinamika yang dihadapi langsung oleh para mahasiswa pengelolanya.

“Perjalanan menjalankan Fourteen Travel rasanya campur aduk antara senang, bangga, capek, dan penuh tantangan,” ujar Fanny saat diwawancarai pada Selasa (30/12/25), seperti dikutip dari laman darmajaya.ac.id.

Keberhasilan lolos dalam program P2MW menjadi momen paling berkesan bagi Fanny dan tim. Ia menjelaskan bahwa proses yang dilalui tidak singkat, mulai dari penyusunan proposal, revisi berulang, hingga tahap presentasi. “Dana hibah ini bukan hanya soal nominal, tetapi menjadi bukti bahwa usaha yang kami jalani bersama tim dinilai layak dan memiliki potensi untuk berkembang,” katanya.

Respons positif dari pelanggan juga menjadi penyemangat tersendiri. Fanny menuturkan bahwa kepuasan wisatawan, pemesanan ulang, serta keterlibatan masyarakat lokal—mulai dari pemandu wisata, pemilik homestay, hingga nelayan—membuat seluruh proses yang dijalani terasa sepadan. “Melihat wisatawan puas dan masyarakat lokal ikut terbantu membuat semua lelah di lapangan terasa terbayar,” tuturnya.

Meski demikian, Fanny mengakui bahwa membagi waktu antara perkuliahan dan pengelolaan usaha menjadi tantangan utama bagi dirinya dan tim. Faktor cuaca laut, kendala operasional, serta keterbatasan modal pada masa awal perintisan juga menuntut mereka untuk terus belajar dan beradaptasi.

Menurutnya, seluruh pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga tentang tanggung jawab, kerja tim, dan ketangguhan. Ia menegaskan bahwa capaian ini bukanlah akhir perjalanan Fourteen Travel, melainkan langkah awal untuk terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas. (**)