Skip to content

Penyuluh Agama Islam Perkuat Kerukunan Bersama Kaolotan dan Tokoh Agama Bayah

(pelitaekspres.com) -LEBAK– Dalam upaya memperkuat kerukunan umat beragama, menjaga keharmonisan kehidupan sosial, serta membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bayah melaksanakan kegiatan silaturahmi sekaligus Early Warning System (EWS) bersama Kasepuhan/Kaolotan dan tokoh agama muda di Desa Pamubulan, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Selasa (3/11/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas dan fungsi Penyuluh Agama Islam dalam melakukan pembinaan keagamaan, pendekatan persuasif, serta deteksi dini terhadap berbagai potensi permasalahan sosial-keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, para penyuluh agama menjalin komunikasi dan dialog bersama sesepuh adat (Kaolotan) serta generasi muda tokoh agama (Ka’ayatan).

Pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi lintas generasi untuk bertukar pandangan, menyampaikan pesan-pesan kebaikan, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kedamaian dan ketenteraman masyarakat.

Salah satu pesan penuh makna disampaikan oleh sesepuh atau Kaolotan, Ama Sukri, yang mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan melalui ungkapan kearifan lokal Sunda : “Kudu akur jeung dulur, tatangga oge baraya.”

Ungkapan tersebut memiliki makna bahwa setiap orang harus senantiasa hidup rukun dengan saudara dan menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena tetangga pun sejatinya merupakan bagian dari keluarga.

Pesan sederhana ini mengandung nilai luhur kehidupan masyarakat Sunda, seperti persaudaraan, saling menghormati, gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan latar belakang.

Filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa kerukunan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghargai, tidak mudah terprovokasi, mengedepankan musyawarah, serta menjaga komunikasi yang baik.

Salah satu Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bayah, Hudin, menyampaikan bahwa kegiatan silaturahmi dan EWS merupakan langkah strategis untuk membangun komunikasi aktif dengan para tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berupaya mengidentifikasi sejak dini berbagai potensi permasalahan yang dapat mengganggu kerukunan dan keharmonisan sosial. Upaya tersebut dilakukan melalui dialog, musyawarah, keterbukaan informasi, serta penguatan hubungan antarelemen masyarakat.

Menurutnya, keberadaan tokoh adat dan tokoh agama memiliki peran penting sebagai perekat sosial. Mereka menjadi tempat masyarakat bertanya, meminta nasihat, sekaligus mencari solusi ketika menghadapi persoalan di lingkungan masing-masing.

Sinergi antara Kaolotan sebagai penjaga nilai-nilai adat dan tradisi leluhur dengan Ka’ayatan sebagai generasi penerus menjadi kekuatan penting dalam menjaga kesinambungan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Kaolotan memiliki peran mewariskan nilai-nilai kearifan lokal, sementara Ka’ayatan bertanggung jawab meneruskan, mengembangkan, dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Kegiatan ini juga menegaskan bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, beradab, dan saling menghormati. Nilai-nilai budaya yang selaras dengan ajaran agama dan prinsip kemanusiaan merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga persatuan.

Kearifan lokal seperti silih asah, silih asih, silih asuh, gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati perlu terus dipelihara serta diwariskan kepada generasi muda.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bayah berharap terbangun komunikasi dan koordinasi berkelanjutan antara tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan seluruh elemen masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam mencegah potensi konflik, menangkal provokasi, memperkuat moderasi beragama, serta menyelesaikan berbagai persoalan melalui musyawarah.

“Kehadiran Penyuluh Agama Islam di tengah masyarakat tidak hanya sebatas memberikan bimbingan keagamaan, tetapi juga berperan sebagai penghubung, penguat persaudaraan, mediator sosial, dan mitra masyarakat dalam menciptakan kehidupan yang harmonis,” ujar Hudin.

Dari Desa Pamubulan, terdapat pesan penting bahwa kerukunan akan tumbuh semakin kuat ketika nilai-nilai agama, adat, dan budaya berjalan beriringan. Perbedaan generasi bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.

Sebagaimana pesan luhur Kaolotan Ama Sukri : “Kudu akur jeung dulur, tatangga oge baraya.”

“Kita terus jaga persaudaraan, merawat kerukunan, menghormati adat istiadat, dan melestarikan kearifan lokal sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang,” Imbuh Hudin.

“Kaolotan ngajaga warisan, Ka’ayatan neruskeun kahadean.

Bersinergi dalam kerukunan, berpijak pada kearifan lokal, dan bersama menjaga kedamaian masyarakat,” pungkasnya.

Article topics