Kamis , November 22 2018
Home / NASIONAL / Sami Bersama Anaknya (Kasminah) Cermin Kepasrahan dalam Penantian

Sami Bersama Anaknya (Kasminah) Cermin Kepasrahan dalam Penantian

(pelitaekspres.com)-PATI–Detak jam dinding yang selalu menemani ke seharianku, penghitung waktu yang tak pernah berhenti berjalan karena terus berputar, emperan rumah dan sekatan terpal menjadi tempat penantian tibanya akhir kehidupan yang disadari keduanya sebagai misteri yang tak ubahnya dengan kehidupan yang di jalani Mbah Semi (88) dan putrinya Mbok Kasminah, warga RT 5/RW I Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, ini sadar bahwa perputaran waktu dan perjalanan kehidupannya suatu saat pasti berakhir.

Kisah keterpurukan yang amat panjang keduanya dalam menjalani kehidupan pun dituturkan keduanya dengan ungkapan yang terbata. Hal itu dimulai dari perjalanannya untuk mencari penghidupan yang lebih baik, di mana angka tahun yang masih diingat jelas waktu itu adalah 1963, di mana kehidupan yang serba susah dan masa paceklik, serta situasi keamanan yang menegangkan ibu dan anak tersebut.

Waktu itu ibu dan anak tersebut dengan berjalan kaki meninggalkan wilayah Ngawen, Blora. Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh hari, maka sampailah mereka di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, dan akhirnya mereka pun menetap di desa itu dengan niat untuk mencari pekerjaan yang berikutnya diterima bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Sukorejo.

Dalam perjalanannya sebagai pembantu rumah tangga, kata Kasminah ternyata harus berakhir tidak menentu setelah majikannya itu meninggal sekitar sepuluh tahun lalu. Sehingga mereka tetap melanjutkan bekerja sebagai pembantu, tapi harus hijrah ke Jakarta dan bekerja di salah satu keluarga almarhum Sukorejo.

Karena hanya dipekerjakan selama lima tahun, maka akhirnya harus kembali pulang ke Puncel. Akan tetapi selama bekerja di rumah majikannya yang di Jakarta, sampai sekarang belum pernah menerima upah apa yang menjadi haknya, kecuali hanya apa yang diminta bila sedang ada keperluan karena sepulang dari Jakarta mereka pun harus kembali ke rumah almarhum majikannya.

Mekipun kondisi rumah itu kosong, tapi mereka akhirnya tidak boleh menempati rumah tersebut oleh keluarga almarhum. Karena itu, ibu dan anak itu mengharap agar ada keluarga almarhum majikannya yang menaruh kepeduian dengan memberi imbalan selama mereka bekerja, agar bisa membuat rumah kecil yang bisa digunakan sekadar untuk bernaung.(narto)

DIBACA 5.752 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *