Jumat , Desember 14 2018
Home / NASIONAL / Rumah Tidak Layak Huni, Kades Sebut Bukan Tanggung Jawab Pemerintah

Rumah Tidak Layak Huni, Kades Sebut Bukan Tanggung Jawab Pemerintah

(pelitaekspres.com)- INDRAMAYU-Mak Tani, begitu warga biasa memanggil nenek tua bernama Tanisem usia 60 tahun yang tinggal seorang diri di sebuah gubuk bertempat di Desa Langut Blok Brak RT/RW 015/003 Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Sebuah gubuk berukuran kurang lebih 2,5 m persegi, berlantai tanah dengan tempat tidur dan dapur yang menyatu, tempat tinggal Mak tani jauh dari kata layak huni.

Tanisem bercerita bahwa jika hujan tiba maka atap rumahnya bocor, dan jika cuaca panas maka terik matahari masuk ke dalam ruangannya, Ia juga memperlihatkan peralatan dapurnya yang sudah tua.

Ia berharap kepada pemerintah desa, kabupaten, provinsi maupun pusat agar rumahnya bisa di benahi, karena selama ini baik dari pemdes dan pemkab belum ada satupun yang datang dan melihatnya.

“Pernah juga ada yang foto rumah oleh RT setempat namun sampai sekarang belum juga terealisi” ucapnya.

Untuk kebutuhan hidupnya, Mak Tani biasa menjual hasil rongsokan yang dikumpulkannya dan dijual dengan hasil Rp. 3-5 ribu rupiah setiap hari.

“kalau untuk makan, Mak akan masak jika masih ada beras dari hasil penjualan barang bekas (Rongsokan) yang dikumpulkan”, ungkap mak tani.

Beruntung tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah keponakannya yang bernama Darmo, sehingga meskipun sedikit, Darmo kerap membantu kehidupan Tanisem.

Menurut Darmo, Bibinya itu sudah tinggal di rumah tersebut sejak lama.

“Ia tinggal disana sejak sekitar tahun 2010, Mak Tani membangun rumah atau gubuk-gubukan ketika suaminya masih hidup.” Kata Darmo ketika ditemui dirumahnya yang juga tidak layak huni berada didepan kediaman Tanisem, Jumat (14/09/2018).

Darmo juga mengatakan, meski sudah 8 tahun hidup di rumah tidak layak huni, Mak Tani sampai kini belum mendapat bantuan rumah tidak layak huni (RUTILAHU) dari pemerintah.

“Dari dulu belum pernah sekalipun mendapat bantuan RUTILAHU, saya sendiri tidak tahu apa alasannya.” keluhnya.

Di hari yang sama, Agus ketua RT 015 mengaku tidak tahu menahu soal program RUTILAHU pada tahun sebelumnya karena ia baru saja menjabat.

“Kalo untuk program RUTILAHU sebelumnya saya tidak tahu apa-apa. Tapi untuk kedepannya, jika ada program RUTILAHU lagi, saya pasti akan mengajukan Mak Tani.” Tandasnya.

Sedangkan mantan ketua RT 015, Sarja menjelaskan bahwa ketika dirinya menjabat sebagai ketua RT sudah 2 kali mengajukan mak tani agar mendapat bantuan RUTILAHU, namun hingga kini belum terealisasi.

“Dulu saya pernah mengajukan Mak Tani agar mendapat bantuan Rutilahu, akan tetapi tidak kunjung terealisasi sampai program rutilahu diadakan lagi, saya kembali mengajukan nama Tanisem namun ditolak pihak desa dengan alasan nama Tanisem sudah pernah diajukan, takutnya jika diajukan lagi, Tanisem mendapat double bantuan.” Jelasnya.

Sementara itu, ditemui dikediamannya Jumat,(14/09/2018) H. Juju kepala desa Langut justru terkesan menyalahkan keluarga Tanisem yang ia anggap tega membiarkan Tanisem hidup dalam kondisi seperti itu, menurutnya hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Tiap hari saya kasih belanja, kenapa saudaranya tega melihat Tanisem seperti itu, Sebenarnya ini hal biasa dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi kenapa selalu pihak desa yang disalahkan. Kalau mau, mari bersama-sama bantu mak Tani.”Tuturnya.

H. Juju juga berencana akan segera membangun rumah Tanisem.

“Rencananya saya akan bangun rumah mak tani dari dana desa serta dana pribadi saya.” Janji Juju.(Eka)

DIBACA 5.044 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *