Minggu , Februari 17 2019
Home / NASIONAL / Lakumerin: Elegi Suku Tetun yang Harus Dilestarikan

Lakumerin: Elegi Suku Tetun yang Harus Dilestarikan

(pelitaekspres.com) – ATAMBUA – Ada banyak ekspresi orang dalam mengungkapkan kesedihannya di saat orang yang dikasihi pergi meninggalkan dia untuk selamanya.

Ada orang mengungkapkan kesedihannya menangis, ada orang mengungkapkan kesedihan dengan menulis puisi atau pantun, ada pula yang mengungkapkan kesedihannya dengan nyanyian ratapan, dan lain sebagainya.

Nyanyian ratapan itu sendiri merupakan sebuah gubahan, dengan lirik atau hanya musik, yang menyatakan kesedihan yang mendalam, misalnya kepedihan hati akibat kematian seorang teman atau orang yang dikasihi. Nyanyian ratapan sering juga disebut elegi.

Dalam Terjemahan Dunia Baru, ungkapan ”nyanyian ratapan” biasanya diterjemahkan dari kata Ibrani: qi·nah, yang berarti gubahan yang sangat memilukan, sebuah elegi, atau ratapan.

Selain menangisi kepergian orang yang dikasihinya, Orang Suku Tetun yang berada di Perbatasan RI-RDTL juga mengungkapkan kesedihannya dengan menyanyikan sebuah elegi yang dikenal Lakumerin.

Lakumerin merupakan nyanyian ratapan suku Tetun. Lakumerin biasanya dinyanyikan oleh sekelompok orang yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Nyanyian ini diambil dari pantun ratapan suku Tetun yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan.

Mereka biasanya melantunkan Lakumerin di hadapan Jenazah yang sedang terbaring kaku. Nyanyian dengan lirik memilukan seakan tak ingin melepaskan kepergian sanak keluarganya yang baru saja meninggal dunia.

Sedikit mengutip salah satu lirik Lakumerin yang dinyanyikan oleh orang-orang suku Tetun.
“Oh… Ohelele…
Lia metan kona ami keta maheak,
Loron ikus kona emi nuudar ami

Oh… Ohelele…
Oda matan tur fatin mamuk los ona,
Tama tinan sai loro mamuk los ona

yang artinya:

Oh… Ohelele…
Kedukaan kena kami jangan mengejek,
Suatu hari kamu sama seperti kami

Oh… Ohelele…
Tempat biasa kita duduk kini mulai sepi,
Tahun berganti tahun hilanglah sudah.”

Masih ada banyak ragam syair dalam Lakumerin. Syair-syair itu dihafal oleh setiap orang secara turun-temurun. Belum ada satu orang pun dari suku Tetun yang berhasil mengumpulkan syair-syair itu dalam sebuah tulisan.

Akibatnya, banyak anak muda jaman sekarang yang ada di Suku Tetun yang mulai meninggalkan budaya Lakumerin ini. Hal ini terlihat dengan banyaknya acara kematian yang sudah tidak terdengar lagi Lakumerin. Lakumerin ini pun seakan mulai sirna dengan maraknya perjudian Bola Guling pada acara kematian.

Salah seorang warga Desa Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL, Domi Seran menuturkan, hampir semua anak muda sekarang yang sudah tidak tertarik dengan budaya Lakumerin. Entah karena ketidaktahuan menghafal dan melantunkan syair-syair Lakumerin, atau karena perkembangan jaman yang membuat mereka lebih memilih beralih ke cara yang lebih modern seperti perjudian saat acara kematian.

“Anak-anak sekarang banyak yang sudah tidak tertarik dengan Lakumerin. Mungkin karena mereka tidak tahu atau karena mereka malu dengan cara tradisional. Mirisnya lagi, hampir setia acara kematian di kota (Atambua, red), kita sudah tidak dengar lagi orang menyanyi Lakumerin. Orang sekarang lebih suka bermain bola guling dari pada menyanyi Lakumerin,” ujar Domi.

Lakumerin, menurut Domi, adalah sebuah kekayaan budaya yang dimiliki oleh orang Suku Tetun. Namun sayang, seiring berjalannya waktu, budaya Lakumerin perlahan mulai dikikis jaman.

Karena itu Domi berharap agar ada anak Suku Tetun yang bisa kembali mengumpulkan dan menulis semua syair Lakumerin agar tidak sirna termakan waktu.

“Kami ini orang tua yang sebentar lagi akan mati. Kami hanya bisa berharap ada anak-anak muda yang menulis syair-syair Lakumerin agar kekayaan budaya yang kita miliki ini tidak hilang”, harapnya. (Richi Anyan)

DIBACA 6.515 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *